Mengenal Kakao Jenis Bulk

57 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

Kakao lebih sering disebut sebagai buah coklat karena dari biji kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan dapat dihasilkan coklat bubuk. Cokelat dalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti susu, selai, roti, dan lain–lain. Selain sebagai bahan makanan dan minuman, coklat juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. 

Daerah asal tanaman kakao adalah hutan hujan tropis di Amerika Tengah, tepatnya di antara 18° LU sampai 15° LS. Tanaman kakao telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, namun baru menjadi komoditas yang penting mulai tahun 1921. Sekitar tahun 1930’an Indonesia dikenal sebagai Negara pengekspor biji kakao terpenting di dunia. Tahun 2010 Indonesia merupakan pengekspor biji kakao terbesar ketiga dunia dengan produksi biji kering 550.000 ton setelah Negara Pantai Gading (1.242.000 ton) dan Gana dengan produksi 662.000 ton.  

Diperkirakan tahun 2010, dari 1.475.344 ha areal kakao Indonesia, sekitar 1.372.705 ha atau 93 % adalah kakao rakyat.  Areal dan produksi kakao Indonesia meningkat pesat pada dekade terakhir, dengan laju 5,99% per tahun. Produksi kakao Indonesia sebagian besar dihasilkan dari perkebunan rakyat yang tersebar di daerah-daerah Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Irian Jaya. Produksinya sebagian besar diekspor, khususnya ke negara-negara Belanda, Jerman Barat, Amerika Serikat, dan Singapura, dalam bentuk biji kering, bubuk kakao, pasta dan margarin. Hal ini mengindikasikan peran penting kakao baik sebagai sumber lapangan kerja maupun pendapatan bagi petani.

Jenis kakao yang ditanam pada awalnya sebagian besar dari jenis Criollo atau flavour cocoa, yang termasuk jenis kakao bermutu baik, namun produksinya rendah dan peka terhadap serangan hama dan penyakit. Sejak diperkenalkannya jenis kakao lindak/kakao baku (bulk cocoa)) pada tahun 1973 oleh BPP Medan, pengembangan kakao di Indonesia banyak menggunakan jenis tersebut yang diketahui relatip tahan terhadap hama dan penyakit serta produktivitasnya tinggi.

Kakao Bulk PTPN XII Kakao bulk dihasilkan melalui pengelolaan teknik budidaya tanaman dan diolah secara Wash Process yang memperhatikan sistem jaminan mutu GAP (Good Agriculture Practice) dan GMP (Good Manufacturing Practice), untuk memperoleh mutu produk dengan karakter spesifik karena sistem pengolahannya sebagai Wash Bulk Cocoa.

Quality Specification

Specification of Wash Bulk Cocoa

Name of Product: Wash Bulk Cocoa

Areal tanaman kakao bulk yang dikelola tersebar di dua belas kebun, meliputi Kebun Sumberjambe, Sungailembu, Kendenglembu, Kalirejo, Kalitelepak, Kalisepanjang, Jatirono, Kalikempit, Banjarsari, Kotta Blater, Kertowono dan Ngrangkah Pawon.