Keheningan Perkebunan di Kaki Gunung Raung

HALIMUN tipis menitis ke hamparan perkebunan hingga menyepuh kota kecil Glenmore yang berhawa sejuk. Ini bukan kota di Inggris atau Eropa tapi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Glenmore berasal dari sebutan seorang bangsawan Skotlandia, Ros Taylor, yang mendapat konsesi perkebunan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1909.

Ia menyebut kebunnya Glenmore, yakni kebun di tanah berkontur dan sampai sekarang menjadi nama daerah itu. Dulu sekali, lahannya pernah ditanami tembakau, kemudian beralih ke coklat dan kopi. Setelah masa kolonial berakhir, pemerintah menasionalisasi semua perkebunan yang terletak di kaki Gunung Raung (3.344 m) tersebut. Tampuk kelolanya diserahkan kepada PTPN XII. Selain mempertahankan lahan kopi dan coklat, belakangan sebagian kebun berganti tanaman tebu, lengkap dengan pabrik gula. Ini pabrik gula yang dibangun pada saat pabrik lain tutup atau ditinggalkan. Namun itulah Glenmore, selalu punya celah untuk hidup dari lahan perkebunan.

Di kaki Gunung Raung yang pernah erupsi pada 2015 juga terdapat Kecamatan Kalibaru, yang sama-sama hidup dari perkebunan. Oleh karena itu, baik Glenmore maupun Kalibaru memiliki situs perkebunan era kolonial, dan itu objek menarik untuk dikunjungi. Minggu kedua April, saya bersepeda motor sendirian mengunjungi daerah tersebut.

Dari Kota Banyuwangi, jarak Glenmore sekitar 75 km. Tapi saya beruntung mempunyai seorang sahabat di Genteng, hanya 25 km dari Glenmore, sehingga titik berangkat saya tidak harus dari ujung Blambangan. Terlebih saya mendapat pinjaman sepeda motor yang cocok buat menyusur jalan pegunungan. “Motor ini tahan buat mancing ke pelosok Keresidenan Besuki,” kata Iqbal (43), sahabat saya itu.

Karenanya, pagi-pagi sekali saya sudah menyusuri jalan raya Banyuwangi-Jember dan tiba di Glenmore. Dari sini, “Bumi Blambangan” terlihat begitu cantik dengan sawah, sungai, dan deretan pohon kelapa. Halimun yang menitis di kaki Gunung Raung menyepuh juga keheningan Glenmore. Di sebuah permakaman umum yang terletak di pinggir jalan, saya berhenti. Di kompleks itulah Angeline, gadis kecil yang malang, dimakamkan. Nyawanya direnggut ibu angkatnya sendiri beberapa waktu lalu di Denpasar dan sempat jadi berita besar.

Orang tua kandung Angeline memang berasal dari Glenmore. Hati saya tergurat kabut kesedihan mengingat peristiwa itu, namun saya simpan. Saya kembali memusatkan perhatian kepada alam yang terbentang seperti lukisan “mooi- Indie”. Di sebuah titik paling indah, di mana sungai penuh batu gemercik di bawah jembatan, saya kembali berhenti. Saya turun mencuci muka di air jernih. Tak jauh dari situ terdapat jalan tanah, dan saya berbelok menyusurinya. Itulah salah satu lokasi perkebunan kopi sisa peninggalan kolonial yang terkenal dengan nama Glenfalloch. Kompleks rumah karyawan beserta kantor dan rumah kepala perkebunan masih tersisa. Dinding rumahrumah itu sudah berganti anyaman bambu kemudian dicat putih-putih.

Hanya rumah para pembesar dan kantor adiministrasinya yang masih belum tersentuh apa-apa. Laki-laki penjaga portal perkebunan bertubuh pendek, berkumis, dan berkulit gelap. Ia tampak tak bersemangat menyambut percakapan yang saya buka, wajahnya malas dan mengenaskan. Saya akhirnya pamit, kembali ke jalan besar. Di seberang jalan terdapat rumah sakit tua yang masih beroperasi hingga hari ini. Uniknya, bangunan rumah sakit itu terbelah dua oleh jalur kereta api.

Promosi Pariwisata

Di pertigaan lain saya lihat Monumen Coklat berupa kepalan tangan menggenggam buah coklat. Tak jauh dari situ terdapat homestayMargo Utomo. Penginapan ini milik pasangan Indonesia- Belanda yang memadukan nuansa alam dengan arsitektur kuno. Bahkan ada peternakan sapi yang susususunya diperah dan dihidangkan untuk para tamu. Sebagian besar tamu berasal dari Belanda dan Belgia. Ini tak aneh, sebab banyak orang Belanda maupun Belgia merupakan bekas karyawan perkebunan di Glenmore atau Kalibaru. Mereka datang bernostalgia. Sebagian lain adalah anak anak muda keturunan mereka yang penasaran mendengar cerita opa-oma. Akan tetapi, tidak semua hal bersandar ke masa lalu.

Kita tahu, Kabupaten Banyuwangi sedang gencar mempromosikan pariwisata lewat berbagai festival dan fasilitas wisata. Bandara Blimbingsari, misalnya, sudah melayani penerbangan langsung Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Selain menjajal peruntungan lewat kebun tebu dan pabrik gula, pihak perkebunan juga membuka objek wisata baru yakni Waduk Sidodadi.

Lokasi ini gampang dicapai, sebab dari pertigaan Pasar Glenmore jalan beton mulus selebar empat meter sudah tersedia. Saya sampai di Waduk Sidodadi masih dalam siraman matahari pagi yang hangat, namun tidak menghilangkan hawa dingin pegunungan. Tiket hanya Rp 4000/orang, sudah termasuk parkir motor. Segera saja saya nikmati keheningan waduk yang unik ini. Waduk ini dibuat dengan cara membendung sungai kecil jernih yang mengalir di lahan tebu. Aliran itu sekaligus dijadikan air terjun mini yang gemercik sepanjang waktu. Waduk ditata sedemikian rupa, ada bagian tanjung, teluk dan pulau kecil yang membuatnya sangat indah.

Kerajinan Aluminium

Jalan-jalan saya berlanjut ke Kalibaru, kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Jember. Di kawasan Sayangan, kiri-kanan jalan dipenuhi kios penjual alat rumah tangga berbahan aluminium, mulai wajan, dandang, panci sampai sendok. Itu daya tarik tersendiri di Kalibaru. Kita bisa mampir di kios yang sekaligus menjadi bengkel kerja para perajin tersebut. Selain mampir melihat proses pembuatan dandang secara tradisional, saya mampir di Stasiun Kalibaru yang masih berarsitektur kolonial. Siang itu, para pekerja kebun dan pencari rumput ternak tampak istirahat di bawah sebatang pohon di alun-alun dusun.

Sebagian bergegas ke masjid tak jauh dari sana. Matahari yang tadi terik, perlahan tertutup awan pegunungan. Selesai shalat, saya bergegas menuju ujung dusun, yaitu ke Air Terjun Tirto Kemanten. Untuk mencapai air terjun, saya harus menuruni lembah melewati jalan setapak bertangga semen. Napas saya menghirup semerbak wangi bunga kopi, digenapi dengung kumbang dan kepak kupu-kupu.

Di dasar lembah mengalir sebatang sungai yang pastilah berasal dari air terjun. Ya, gemuruhnya mulai terdengar. Lidah air terjun itu pun kini terlihat di celah-celah dedaunan lamtoro, sengon, dan mahoni. Saya sengaja menikmatinya dulu dari balik tirai pepohonan. Ada sensasi tersendiri. Berapa menit berselang barulah saya turun menyaksikan sepasang air terjun yang bergemuruh itu. Bekas-bekas gardu pandang masih tersisa, tampaknya bangunan itu sengaja diruntuhkan karena dianggap menutupi pemandangan.

Tapi pondasi sisa bangunan tampak sebagai reruntuhan yang memberi nuansa tak terduga. Sesuai namanya, Tirto Kemanten berarti air penganten, maka air terjun ini memang sepasang. Keduanya terjun berdampingan dari ketinggian 15 meter. Hanya yang sebelah kanan agak kecil dan sebelah kiri lebih besar. Jangan-jangan film Air Terjun Pengantin terinspirasi lokasi ini.

Benar atau tidak, saya sangat takjub menyaksikan keajaiban alam ini. Saya membayangkan kedua lidah air itu seperti sepasang kekasih, jantan dan betina, menyatu dalam pusaran lubuk pengantin sebelum akhirnya mengalir di lembah. Mengairi kebun-kebun dan hamparan sawah di keheningan kaki Gunung Raung.

 

Sumber : berita.suaramerdeka.com (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter