Sarinah dan PTPN XII Bersinergi Perluas Pasar Kopi dan Teh

Jakarta, CNN Indonesia -- PT Sarinah (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) bekerja sama memperluas pemasaran produk kopi dan teh dalam negeri.

Hal itu diwujudkan dalam penandatangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara kedua pihak, dan anak usaha PTPN XII yakni PT Rolas Nusantara Mandiri (Rolas).

Dalam kerja sama ini, PTPN XII dan Rolas bakal memasok berbagai jenis produk kopi untuk Sarinah. Kemudian, perseroan bakal menjual produk kopi tersebut di gerai kopi 'Cup of Java' maupun outlet perseroan di bandara.

Selain itu, produk kopi dan teh PTPN XII juga akan dijual dalam kemasan secara daring (online) oleh perseroan. Diharapkan, itu dapat memperluas potensi pasar dari pembelian secara grosir.

Direktur Utama Sarinah GNP Sugiarta Yasa mengungkapkan perseroan tengah berbenah untuk mendekatkan diri ke kalangan konsumen milenial. Salah satunya melalui gerai kopi yang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat masa kini.

"Kopi merupakan gaya hidup, sangat menarik apabila kopi itu disajikan dengan paket yang menarik sebagai gift ke tamu mancanegara," ujar Sugiarta usai acara penandatanganan MoU di Kantor Kementerian BUMN, Senin (12/3).

Kontribusi gerai kopi sebenarnya masih kecil bagi perseroan. Yakni, pada kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan atau Rp240 juta hingga Rp360 juta per tahun. Karenanya, ia berharap kerja sama ini bisa mendongkrak omzet lini usaha tersebut.

"Dengan adanya kerja sama ini, kami harapkan omzet (Cup of Java) minimal tumbuh lebih dari 100 persen," ujar Sugiarta.

Sinergi dengan perusahan perkebunan pelat merah itu juga diharapkan bisa menambah pilihan kopi unggulan nusantara bagi konsumen.

Direktur PTPN XII Berlino Mahendra Santoso mengungkapkan sinergi ini menjadi salah satu upaya perseroan untuk menjadi perusahaan kelas dunia dengan memilih mitra hilir yang berkompeten. Selama ini, perseroan lebih banyak mengekspor biji kopi ke luar negeri, terutama Amerika Serikat dan Eropa, yaitu sekitar dua ribu ton.

"Pasar dalam negeri kami kecil. Paling sekitar lima persen (dari ekspor)," ujar Berlino.

Tahun ini, perseroan juga tengah membidik untuk memperluas pasar kakao ke pabrik cokelat di Selandia Baru. Dengan harapan, nantinya produsen cokelat dari Negeri Kiwi itu bersedia membuka pabrik pengolahan di Indonesia.

Lebih lanjut, Berlino mengungkapkan perseroan akan berusaha mempertahankan laba tahun ini, setelah 2017 lalu keuntungannya tergerus karena ekspansi ke pabrik gula sebesar Rp2 triliun. Disebutkan Berlino, tahun lalu perseroan hanya mencetak laba sekitar Rp9 miliar merosot dari tahun lalu Rp40 miliar.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Usaha Konstruksi, Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN Ahmad Bambang menyatakan kolaborasi ketiga perusahaan dapat meningkatkan kinerja kedua perusahaan.

"Melalui sinergi ini, diharapkan dapat diikuti oleh BUMN-BUMN lainnya untuk dapat meningkatkan kinerjanya," ujar Ahmad.

Bahkan, Ahmad berharap produk kopi dalam negeri bisa menyaingi produk kopi kemasan gerai kopi internasional, Starbucks.

"Targetnya jelas, paling tidak kita (produk kopi BUMN) bisa menyaingi Starbucks," ujarnya.

 

 

Sumber : cnnindonesia.com (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter