Harga Karet Reli Hari Ketiga, Ini Faktor Penggeraknya

Bisnis.com, JAKARTA – Reli harga karet berlanjut dan berakhir menguat lebih dari satu persen pada perdagangan hari ketiga berturut-turut, Selasa (10/4/2018), ditopang laporan turunnya cadangan komoditas ini di Qingdao.

Harga karet untuk pengiriman September 2018, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup menguat 1,21% atau 2,20 poin di level 183,50 yen per kilogram (kg).

Pagi tadi harga karet dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,22% atau 0,40 poin di posisi 181,70. Pada perdagangan Senin (9/4), karet berakhir menguat 1,12% atau 2 poin di level 181,30.

Menurut Kazuhiko Saito, analis perusahaan broker Fujitomi, laporan data yang dirilis semalam menunjukkan jumlah cadangan karet di Qingdao, China, turun untuk pekan ketiga, sehingga meningkatkan optimisme pulihnya permintaan di negeri Tirai Bambu.

Sementara itu, jumlah persediaan karet alam di Qingdao turun 12% menjadi 107.800 ton sepanjang pekan yang berakhir pada 30 Maret, penurunan untuk pekan ke-3, ke level terendah sejak Januari 2017.

“Beberapa pedagang juga mengkhawatirkan tentang suplai selama musim produksi yang rendah saat Thailand memangkas ekspornya lebih dari ekspektasi,” tambah Saito, seperti dikutip Bloomberg.

Sejalan dengan karet, harga minyak West Texas Intermediate terpantau menguat 1,31% atau 0,83 poin ke level US$64,25 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 13.40 WIB.

Turut menopang karet, indeks Nikkei 225 berakhir menguat 0,54% atau 116,06 poin ke level 21.794,32, setelah dibuka turun 0,36% atau 78,59 poin di posisi 21.599,67.

Adapun nilai tukar yen hari ini terpantau melemah 0,37% atau 0,40 poin ke posisi 107,17 per dolar AS pada pukul 13.50 WIB, setelah berakhir menguat 0,14% di posisi 106,77 pada perdagangan Senin (9/4).

Pergerakan Harga Karet Kontrak September 2018 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

10/4/2018

183,50

+1,21%

9/4/2018

181,30

+1,12%

6/4/2018

179,30

+1,70%

5/4/2018

176,30

-1,84%

4/4/2018

179,60

-0,28%

Sumber: Bloomberg (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter