Harga Karet Melemah Terbebani Faktor Berikut

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga karet berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (2/5/2018), terbebani sejumlah faktor, di antaranya kekhawatiran akan suplai yang lebih tinggi.

Harga karet untuk pengiriman Oktober 2018, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup melemah 0,47% atau 0,90 poin di level 192 yen per kilogram (kg).

Pagi tadi, karet dibuka di zona merah dengan turun 0,21% atau 0,40 poin di posisi 192,50, setelah mampu membukukan rebound dan berakhir naik tajam 3,93% di level 192,90 poin pada perdagangan Selasa (1/5).

Menurut Takaki Shigemoto, analis perusahaan riset JSC di Tokyo, saat musim produksi yang rendah di Thailand akan berakhir bulan ini, ada kekhawatiran mengenai kenaikan suplai yang membebani bursa karet.

“[Selain itu] minat investor untuk bursa berjangka karet telah turun saat reli minyak terhenti sehingga melemahkan spekulasi kenaikan harga karet sintetis,” tambah Shigemoto, seperti dikutip Bloomberg.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2018 berakhir melemah 1,93% di posisi U$67,25 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah dalam dua pekan pada perdagangan Selasa (1/5).

Turut membebani karet, nilai tukar yen hari ini terpantau menguat 0,05% atau 0,06 poin ke posisi 109,80 per dolar AS pada pukul 14.22 WIB, setelah dibuka dengan depresiasi tipis 0,01% atau 0,01 poin di level 109,87.

Seperti diketahui, penguatan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang ini menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Dampaknya, permintaan akan komoditas ini berpotensi menurun.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Oktober 2018 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

2/5/2018

192,00

-0,47%

1/5/2018

192,90

+3,93%

30/4/2018

holiday

Holiday

27/4/2018

185,60                             

-0,80%

26/4/2018

187,10

-0,58%

Sumber: Bloomberg (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter