Mari Mencicip Cokelat Terbaik Dunia di Banyuwangi

Pekerja pabrik cokelat menunjukkan bahan baku biji cokelat yang hendak diolah menjadi cokelat konsumsi di pabrik cokelat Doesoen Kakao milik PTPN XII di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (16/2/2019). Kementerian BUMN mendorong perusahaan pertanian dan perkebunan milik negara mulai mengembangkan produksi hilir.

 

BANYUWANGI, KOMPAS — Indonesia punya cokelat terbaik dunia. Cokelat itu ialah kakao edel atau yang biasa dikenal dengan nama cokelat mulia. Cokelat tersebut biasanya hanya untuk ekspor. Namun, kini cokelat tersebut bisa dinikmati di pabrik cokelat PTPN XII di Banyuwangi, Jawa Timur.

Cokelat edel hanya ditanam di Indonesia, tepatnya di lahan PTPN XII, perkebunan yang didirikan Belanda, yang kini menjadi bagian dari BUMN. Kini, untuk pertama kalinya, PTPN XII membuka pabrik pengolahan produk cokelat edel di Glenmore, Banyuwangi, untuk konsumsi di Indonesia.

Kepala Bagian Tanaman PTPN XII Yualianto ketika ditemui di Banyuwangi, Minggu (17/2/2019) menyebutkan, ada dua jenis kakao yang tumbuh di Indonesia, yaitu kakao edel dan kakao bulk. ”Kakao edel yang istimewa karena hanya ada di Indonesia dan hanya tumbuh di kebun milik PTPN XII. Dari total lahan kakao milik PTPN XII seluas 5.000 hektar, sebanyak 1.200 hektar di antaranya merupakan lahan untuk kakao edel,” ujarnya.

Kepala Bagian Tanaman PTPN XII Yualianto

Kakao edel, lanjutnya, memiliki rasa yang lembut (smooth), berbeda dengan kakao bulk yang cenderung dark atau kelat (sepat). Biji yang dimiliki keduanya juga berbeda. Apabila dibelah, biji kakao edel berwarna putih, sedangkan kakao bulk berwarna ungu.

"Kakao edel adalah yang istimewa karena hanya ada di Indonesia dan hanya tumbuh di kebun milik PTPN XII. Dari total lahan kakao milik PTPN XII seluas 5.000 hektar, sebanyak 1.200 hektar di antaranya merupakan lahan untuk kakao edel."

Kakao edel banyak digemari pasar Eropa. Nilai ekspor per kilogram biji keringnya mencapai 7 dollar AS hingga 8 dollar AS. Sementara harga kakao bulk hanya berkisar 2,5 dollar AS hingga 3 dollar AS per kilogram.

 

Yualianto mengatakan, pada tahun 2018, produksi kakao edel mencapai 450 ton. Sekitar 85 persen merupakan mutu kelas I yang diekspor untuk pasar Eropa.

”Saat ini, cokelat terbaik produksi PTPN XII memang masih dikuasai pasar ekspor. Namun, agar masyarakat lokal juga dapat menikmatinya, PTPN XII untuk pertama kalinya membuka pabrik pengolahan produk konsumsi di Banyuwangi,” tuturnya.

Pabrik pengolahan produk konsumsi tersebut terdapat di Doesoen Kakao yang terletak di tengah perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Kabupaten itu milik PTPN XII. Tak hanya menjadi pabrik produksi, Doesoen Kakao juga diharapkan dapat menjadi wahana wisata edukasi berbasis agro.

Manajer Kebun PTPN XII Kendeng Lembu Achmad Hendi Junaidi menunjukkan produk cokelat konsumsi milik PTPN XII di Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

 

Manajer Kebun PTPN XII Kendeng Lembu Achmad Hendi Junaedi mengatakan, dalam sehari pihaknya bisa menghasilkan 50 kilogram produk olahan cokelat. Produk yang dihasilkan tersebut berupa praline untuk dibentuk menjadi permen cokelat atau cokelat batangan serta berupa bubuk untuk menjadi minuman cokelat.

Saat ini, cokelat terbaik produksi PTPN XII memang masih dikuasai pasar ekspor. Namun, agar masyarakat lokal juga dapat menikmatinya, PTPN XII untuk pertama kalinya membuka pabrik pengolahan produk konsumsi di Banyuwangi.

”Saat ini produksi kami baru 50 kilogram per hari, namun kapasitas maksimal kami bisa sampai 100 kilogram per hari. Kami berharap dengan adanya pabrik pengolahan produk cokelat untuk konsumsi, cokelat terbaik dunia bisa dikonsumsi juga oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Menteri BUMN Rini Soemarno meninjau pembuatan cokelat di Doesoen Kakao, Glenmore, Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Pabrik pengolahan produk cokelat ini merupakan pabrik pertama yang dimiliki PTPN XII. Di beberapa perkebunan cokelat milik PTPN XII, pabrik yang ada hanya untuk mengeringkan biji cokelat, tidak sampai pada produk olahan untuk konsumsi.

Menteri BUMN Rini Soemarno yang hadir dalam peresmian pabrik pengolahan cokelat milik PTPN XII tersebut merasa senang karena PTPN XII mampu melakukan hilirisasi yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

”Sudah saatnya perkebunan memaksimalkan potensinya dengan hilirisasi, tidak hanya menjual mentah. Ini akan memberikan manfaat yang lebih banyak, tidak hanya bagi BUMN, tetapi juga bagi masyarakat,” kata Rini.

Ia juga berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang terus mendorong kolaborasi dengan BUMN untuk mengembangkan aset-aset yang ada di daerah. Salah satu wujudnya adalah pabrik pengolahan cokelat tersebut.

 

Keberadaan pabrik cokelat tersebut, kata Rini, juga untuk mengembangkan wilayah perkebunan Kendeng Lembu sebagai destinasi wisata agro edukatif. Selain menikmati cokelat dari biji kakao terbaik, wisatawan juga bisa ke pabrik untuk belajar pengolahan kakao menjadi cokelat yang bisa dikonsumsi.

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter