PTPN XII Genjot Produktivitas Kakao Lewat Strategi Penyehatan

 

Banyuwangi, Beritasatu.com - PT Perkebunanan Nusantara (PTPN) XII tahun ini akan menggenjot produktivitas tanaman kakao hingga tiga kali lipat dari sekarang melalui program penyehatan (strategic healing).

Dirut PTPN XII, M Cholidi, mengatakan, PTPN XII memiliki total luas lahan untuk perkebunan kakao seluas 1.650 hektar. Dari luas lahan itu, tanaman kakao bulk menguasai 60 persen dan tanaman fine cocoa atau kakao edel 40 persen. Namun, produktivitas kedua tanaman kakao itu cukup rendah, hanya 300 kilogram (kg) per hektar per tahun atau dibawah BEP (Break Even Point) dari biaya produksi. Komoditas tanaman kakao pun tak menyumbang sepeserpun atas keuntungan yang didapat oleh PTPN XII sepanjang 2018 lalu.

Padahal, kalau produktivitasnya bisa digeber lebih besar dari sekarang, misalnya 400 kg per hektar untuk kakao edel atau 600 kg per hektar per tahun untuk kakau bulk, BEP pun sudah bisa dicapai. Apalagi kalau produktivitasnya bisa didorong sampai 800 hingga 1.000 kg per hektar per tahun, sudah pasti akan jauh lebih menguntungkan.

"Nah sekarang boro-boro produktivitasnya mendekati BEP, yang terjadi malah di bawahnya. Makanya, kami ingin mengembalikan kekhasan PTPN XII dalam produksi kakao pada standar yang lebih baik. Tahun ini kami akan dorong produktivitasnya melalui proses penyembuhan tanaman tahunan ini dan kami mengistilahkan program strategic healing," kata Cholidi kepada Beritasatu.com, di sela kunjungan ke Doesoen Kakao, di Banyuwangi, Minggu (31/3/2019).

Pabrik pengolahan kakao PTPN XII

Cholidi menyebutnya dengan program penyehatan, karena tanaman kakao cukup lama menderita dengan sangat minimalis dalam hal pemberian asupan pupuk. Kalau tanaman hanya diberikan asupan pupuk 30 persen hingga 40 persen, tanaman pastinya tidak akan bisa tumbuh dengan normal apalagi tumbuh dengan bagus.

"Tanaman itu tidak pernah bohong, diberi asupan yang cukup dia akan menghasilkan buah yang banyak. Namun, kalau diberi asupan yang minimalis akan menghasilkan buah yang minimalis pula. Jangan berharap kita mendapatkan keberkahan buah yang banyak kalau tidak pernah sedekah kepada tanaman," ujar Cholidi.

Cholidi menegaskan, proses penyehatan tanaman kakao tersebut kini sedang berlangsung. Asupan pupuk ditambah dari hanya 30-40 persen menjadi 100 persen. Pada proses penyehatan tanaman kakao ini, juga dilakukan pemangkasan untuk memancing buah sekaligus mencegah tumbuhnya jamur pytopthora palmivora, yang berkembang dengan cepat dalam keadaan lembab, yang menyebabkan buah kakao busuk dan mengeras. Jamur tersebut sulit diobati, namun bisa dihindari bila ada sirkulaisi matahari yang cukup pada tanaman kakao.

"Kurangnya dana untuk pemangkasan tanaman menyebabkan produktivitas tanaman kakao juga rendah. Nah, melalui proses penyehatan ini, kami ingin produktivitasnya bisa lebih baik sehingga kami bisa membuktikan bahwa menanam kakao itu menguntungkan," terang Cholidi.

Sejauh ini, menurut Cholidi, tidak banyak yang membudidayakan tanaman kakao edel. Di Indonesia PTPN XII merupakan satu-satunya yang menyuplai kakao edel. Padahal, permintaan pasar kakao edel cukup tinggi dengan harga yang cukup stabil yakni US$ 7,2 per kg atau jauh diatas harga kakao bulk yang hanya US$ 3 per kg. Adapun negara-negara pemesan kakao edel yang diproduksi PTPN XII seperti Perancis, Inggris dan Jepang. Selama ini, hampir 80 persen produksi kakao edel PTPN XII ditujukan untuk pasar ekspor.

"Kakao edel ini kalau dijual di dalam negeri tidak ada yang berani menawar, terlalu mahal harganya. Tetapi dengan taste yang lebih halus, banyak diminati terutama di negara-negara Eropa. Kami ingin mengembalikan kebanggaan PTPN XII yang mampu menghasilkan kakao edel yang sangat dihargai di banyak negara di Eropa dan mulai ditanam sejak zaman Belanda," ungkap Cholidi.

Cholidi menyatakan, strategi penyehatan akan meningkatkan produktivitas kakao tahun ini hingga mencapai BEP, atau bahkan melebihinya hingga bisa menyumbang keuntungan PTPN XII. Pihaknya optimistis keuntungan tahun ini akan lebih besar dibandingkan tahun lalu karena program penyehatan juga dilakukan pada komoditas lainnya seperti kopi, karet, teh dan lainnya.

"Tahun ini kami proyeksikan keuntungan sebesar Rp 100 miliar, naik dari tahun lalu yang masih dalam perkiraan karena belum audit, yakni sebesar Rp 2,9 miliar," terang Cholidi.

 

Source:

https://www.beritasatu.com/ekonomi/546361/ptpn-xii-genjot-produktivitas-kakao-lewat-strategi-penyehatan

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter