Doesoen Kakao, Destinasi Wisata Edukasi dan Sejarah Banyuwangi

451 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Ketenaran Banyuwangi sebagai daerah tujuan wisata sudah tidak diragukan lagi. Selain karena keindahan panorama alamnya, Tanah Blambangan ini masih memiliki banyak potensi turisme yang sangat layak untuk dikunjungi. Salah satunya adalah perkebunan coklat.

Related image

Wilayah Glenmore sendiri sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil coklat. Kualitas coklat dari Perkebunan Kendeng Lembu di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi ini bahkan tersohor hingga Eropa.  Hingga saat ini, perkebunan Kendeng Lembu itu masih terawat dengan baik dan menghasilkan kakao edel atau kakao mulia yang berkualitas ekspor dan digemari oleh penikmat coklat di Eropa seperti Swiss, Perancis dan Inggris. Di wilayah tersebut juga terdapat situs purbakala dari Zaman Neolitikum yang menarik perhatian para arkeolog. Glenmore pun dikaitkan dengan keberadaan manusia purba yang pernah ada di wilayah ini. Menyimpan nilai-nilai sejarah dengan panorama indah berlatar belakang hamparan perkebunan seluas 3.800 hektar serta diliputi udara yang sejuk dengan suhu di kisaran 20-27 derajat celcius di ketinggian 350 meter dari permukaan laut (mdpl), perkebunan Kendeng Lembu yang kini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) mulai menjadi primadona baru wisata agro di Banyuwangi.

Wisata Doesoen Kakao yang dikembangkan PTPN XII tersebut berlokasi di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pengunjungnya bukan saja turis lokal melainkan juga turis mancanegara. Rerata pengunjung di hari biasa di kisaran 100 hingga 200 orang per hari. “Khusus akhir pekan atau hari libur pengunjungnya bisa sampai 500 orang,” tutur Asisten Kepala Kebun Kendeng Lembu, Fauzi Ismail. Turis lokal yang berkunjung ke Doesoen Kakao datang dari Banyuwangi dan sekitarnya serta kota-kota lain di Indonesia. Kemudian, turis mancanegara datang dari Belanda, Inggris, Swiss, Jerman dan Hongkong. Pengunjung bisa mengambil paket Wisata Edukasi, dimana per paket untuk pelajar atau mahasiswa Rp 25.000, turis lokal Rp 35.000 dan turis mancanegara Rp 55.000. Dan setiap kendaraan pengunjung dikenakan biaya kebersihan untuk sepeda motor Rp 2.000, mobil Rp 5.000 dan bus Rp 15.000.

Di dalam paket wisata edukasi itu pengunjung bisa berkeliling kawasan wisata menggunakan shuttle car dan mempelajari budidaya kakao, mulai proses pembibitan, panen, penjemuran biji kakao hingga proses pengolahan biji kakao menjadi produk coklat siap saji di pabrik pengolahan kakao di lokasi wisata. Wisatawan juga bisa mempelajari sejarah coklat di Indonesia khususnya kabupaten Banyuwangi di gallery Coklat. Tak lengkap rasanya bagi wisatawan kalau tak mencicipi kuliner khas Doesoen Kakao, beraneka menu olahan coklat di Café Coklat yang di depannya dihiasi patung berbentuk air mancur coklat. Uniknya kafe ini ialah bangunan kuno peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai rumah sinder atau kepala kebun.

Meskipun bangunan ini telah diubah fungsinya sebagai kafe, arsitektur bangunan kuno tetap dipertahankan. Pada setiap dinding kafe terpampang papan yang berkisah tentang sejarah coklat mulai perkembangannya di banyak negara sampai masuknya ke Indonesia. Di belakang café, wisatawan juga bisa menikmati kuliner seperti nasi goreng khas Banyuwangi dan menyantap camilan di ‘Food Court Doesoen Kakao’ sembari ditemani gemercik air di kolam pembibitan ikan di dekat restoran itu. Seharian menjelajahi obyek wisata, pengunjung dari luar kota Banyuwangi yang ingin bermalam di Wisata Doesoen Kakao, bisa menginap di beberapa homestay atau penginapan yang sudah disiapkan pengelola dengan biaya sewa yang cukup bersahabat. Setidaknya terdapat 12 kamar yang terbagi atas 3 kamar VIP dengan tarif sebesar Rp. 350.000 per dua orang dan 9 kamar tipe standar dengan tarif sebesar Rp 250.000 per dua orang. Menariknya, beberapa bangunan penginapan itu adalah peninggalan rumah tinggal orang Belanda ketika mengelola perkebunan itu. Arsitektur bangunan yang bernilai seni tinggi tetap dipertahankan seperti aslinya sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Wisata Doesoen Kakao bisa ditempuh lewat jalur darat selama kurang lebih satu setengah jam dari Kota Banyuwangi. Sejak 2016 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah memasukkan Wisata Doesoen Kakao ke dalam daftar salah satu destinasi wisata edukasi di Banyuwangi. Wisata Doesoen Kakao berdekatan juga dengan wisata waduk Sidodadi, sehingga wisatawan bisa liburan dua tempat wisata sekaligus dalam satu hari. Terkait dengan rebranding wisata Doesoen Kakao sebagai obyek wisata bernilai sejarah, Dirut PTPN XII M. Cholidi saat ini sedang disiapkan narasi tentang perkebunan Kendeng Lembu dalam bentuk 3D, juga pembuatan ampiteather untuk pagelaran seni yang mengangkat kearifan lokal lewat pertunjukan seni.

”Kami sedang mendorong Wisata Doesoen Kakao sebagai destinasi wisata bersejarah. Pengembangan destinasi yang sama tuanya dengan masuknya Belanda ini akan melengkapi yang ada sekarang, mulai cara budidaya kakao hingga siap sajinya. Disitu, selain wisata dan edukasi, nantinya juga ada pertunjukan seni dengan hadirnya ampiteather,” tutur Cholidi. (KS-5)

Image result for doesoen kakao
Suasana di dalam Doesoen Kakao
klik to go to location