Sejarah Panjang Kopi Bondowoso, Mulai Tanam Paksa hingga Tuai Reputasi

 9,259 total views,  1 views today

Sejarah Kopi Bondowoso begitu panjang dimulai dari tanam paksa hingga Kopi Arabika Bondowoso menuai reputasi.

Bondowoso – Bondowoso adalah salah satu penghasil kopi berkualitas tinggi di Tanah Air. Sejarah perkopian di Bondowoso tak lepas dari perkebunan kopi PTPN XII di Kecamatan Ijen dan sekitarnya yang reputasinya telah memiliki sejarah begitu panjang sejak penerapan Cultuurstelsel. Apa itu?

Perkembangan kopi di Bondowoso berawal dari upaya Belanda mendirikan perkebunan kopi di dataran tinggi Ijen dan Raung sekitar abad ke-19 atau pada kisaran 1890-an silam.

Perkebunan kopi seluas sekitar 11 ribu hektare itu terletak di lereng Pegunungan Ijen dan Gunung Raung. Tepatnya di seluruh Kecamatan Ijen, Bondowoso. Dan hanya ada satu jenis kopi di sana, yakni Kopi Arabika.

Perkebunan kopi di wilayah ini terdiri dari 2 wilayah kebun. Kebun Kalisat/Jampit dan Kebun Blawan, PTPN XII. Masing-masing terdiri dari beberapa afdeling atau bagian.

Sejarawan Bondowoso Tantri Raras Ayuningtyas menyebutkan, cikal bakal berdirinya perkebunan kopi di wilayah ini berawal saat Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa.

Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya teh, kopi, dan kakao.

Sistem yang diberlakukan sejak 1830-an itu menerapkan kebijakan yang memaksa warga pribumi menanam tanaman ekspor yang hasilnya wajib disetorkan kepada pemerintah kolonial Belanda.

“Daerah perkebunan besar dengan komoditi kopi adalah di wilayah Jawa Timur, khususnya di daerah eks Karesidenan Besuki dan Malang,” kata sejarawan jebolan UNS Solo itu.

Dia memaparkan lebih jauh, bahwa pada 1840-an silam mulai direncanakan pembukaan perkebunan kopi bersamaan dengan pendirian 12 pabrik gula di Karesidenan Besuki.

“Wilayah Ijen pertama kali dibuka perkebunan kopi pada 1890-an oleh Gerhard David Birnie. Ia mencoba mengembangkan Kopi Arabika melalui perkebunan Blawan,” papar Tantri Raras.

Pada Zaman Pendudukan Belanda wilayah Blawan dikenal dengan nama Mount Blau. Untuk memperluas usahanya pada 1927 dibangun Perkebunan Kalisat/Jampit yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan David Birnie Administrate Kantoor.

“Saat itu, kopi merupakan komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian pemerintah Hindia Belanda. Tepatnya sejak abad ke-16 atau sekitar 1686-1699 silam,” ujar Tantri.

Bibit kopi pertama kali didatangkan pemerintah kolonial Belanda dari Malabar, India untuk ditanam di Indonesia. Bahan tanaman inilah yang menjadi cikal bakal seluruh perkebunan kopi di Hindia Belanda.

Berdasarkan sejumlah literatur, diperkirakan ada lebih dari 300 jenis kopi yang ada di Indonesia. Baik jenis Robusta, Arabika, bahkan dikenal juga jenis kopi Liberika.

Dari jumlah itu baru 13 jenis kopi Indonesia yang terdaftar sebagai Indikasi Geografis (IG). Salah satunya kopi yang berasal dari dataran tinggi Ijen dan Raung, yang diberi nama Java Ijen-Raung.

Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang atau produk. Faktor yang menentukan yakni lingkungan geografis, alam, dan manusia atau kombinasi dari faktor-faktor itu. Sehingga tersemat reputasi, kualitas, dan karakteristik produk yang dihasilkan.

Kopi-kopi di Indonesia yang telah memiliki IG di antaranya Gayo Aceh, Sidikalang Sumut, Lampung, Toraja Sulsel, Bajawa NTT, Kintamani Bali, juga Preanger Jabar dan sejumlah jenis kopi dari beberapa daerah lainnya.

Sumber: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6028326/sejarah-panjang-kopi-bondowoso-mulai-tanam-paksa-hingga-tuai-reputasi