Program Makmur Sejahterakan Petani Kopi Ijen, Panen Melimpah, Harga Makin Naik

 4,661 total views,  1 views today

Bondowoso, Bangsapedia.com – Tanaman kopi di sepanjang jalan menuju Gunung Ijen di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur mulai tampak berbuah lagi.

Para petani sudah memanen kopi jenis arabica sejak Mei  hingga Agustus 2023 mendatang.

Panen kali ini cukup menggembirakan, sebab produktifitas meningkat dan harganya meningkat dibandingkan panen tahun sebelumnya.

Peningkatan produktivitas ini setelah sejumlah petani di Kabupaten Bondowoso bergabung dengan Program Makmur Kopi Nusantara yang digagas oleh Menteri BUMN melalui PT Pupuk Indonesia.

Pada tahun 2022 lalu, produktivitas panen hanya 1.400 kilogram kilogram gelondong buah ceri kopi per hektar.

Namun setelah bergabung dengan Program Makmur, produktivitas meningkat hingga 1.950 kilogram gelondong buah ceri kopi per hektar. Ada kenaikan sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Cerita Petani Ikut Program Makmur

Salah satu petani kopi arabika yang mengikuti Program Makmur adalah Agus Suprapto. Ia ikut program itu sejak tahun 2022 lalu dengan luas lahan satu hektare.

Pria yang akrab disapa Agus itu baru saja pulang dari kebunnya pada Kamis (7/12/2023). Setiap pagi, ia selalu pergi ke kebun untuk merawat tanaman kopinya.

“Panen sudah selesai bulan Agustus kemarin, sekarang tanaman sudah berbuah lagi, tapi masih kecil-kecil,” kata Agus pada Bangsapedia.com.

Agus mengaku panen pada tahun 2023 ini cukup menggembirakan. Sebab produktivitas meningkat, harganya juga lebih mahal dibanding panen tahun 2022 lalu.

Hal itu setelah ia bersama para petani lainnya ikut program Makmur.  “Ikut program makmur ini, kami mendapatkan pendampingan sehingga kami bisa belajar,” aku dia.

Pendampingan yang diberikan yakni mulai dari budidaya, pengolahan lahan, penyediaan pupuk non subsidi yang berkualitas,  modal usaha dengan bunga rendah dari BRI, hingga membantu memasarkan hasil panen kopi tersebut.

Bahkan, Agus juga dilatih untuk budidaya tanaman kopi, mulai dari perawatan hingga panen. Ilmu yang diperoleh dalam acara workshop itu kemudian disampaikan pada petani lainnya.

Dia mengaku menerapkan ilmu yang diberikan oleh tim program makmur.  “Saya mulai mengaplikasikan pupuk berimbang dan cara budidaya sesuai dengan rekomendasi tim Program Makmur,” ucap dia.

Begitu juga dengan petani lainnya, ilmu yang diperoleh diterapkan. Seperti cara pemupukan, cara perawatan, hingga cara memanen yang benar.

Penerapan ilmu itu ternyata membuat hasil panen kopi lebih baik dibandung tahun sebelumnya.  

Walaupun produktivitas itu masih belum  optimal  karena faktor cuaca yang kurang bersahabat. Padahal cuaca sangat menentukan tingkat keberhasilan pertanian kopi.

“Pembungaan kemarin itu sangat bagus, namun tiba – tiba diserang hujan,” ucap dia.

Akibatnya,  banyak bunga yang rontok dan produktivitas tidak terlalu optimal meskipun naik dari tahun sebelumnya.

Kendati demikian Agus tetap senang. Sebab, peningkatan produktivitas petani kopi di kawasan Ijen ini juga diiringi dengan peningkatan harga jual.

Harga Jual Kopi Lebih Mahal

Di pertengahan Juni, petani bisa mendapatkan harga hingga di atas Rp16.000 per kilogram gelondong ceri kopi.

“Sebelum ikut program Makmur, harganya cuma dibawah Rp10.000, namun sekarang harganya sudah bisa mencapai Rp16.000, ” tutur dia.

Selain dijual dalam bentuk ceri, petani juga bisa mengolah buah ceri kopi mereka ke Pabrik Kopi Kebun Blawan milik PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).

Pabrik ini memang didedikasikan oleh Program Makmur Kopi Nusantara wilayah Jawa Timur untuk memberikan nilai tambah bagi petani di Kawasan Ijen.

Agus mengaku Program Makmur tersebut bisa membantu mensejahterakan petani melalui produktivitas kopi.

“Kalau tidak ada program Makmur, kami tidak ada pendampingan sehingga proses budidaya ala kadarnya,” jelas dia.

Selain itu, juga tidak ada jaminan ketersediaan pupuk non subsidi. Namun melalui program ini, petani bisa dengan mudah untuk mendapatkan pupuk.

Agus mencontohkan, hasil panen dalam satu hektar bisa mencapai sekitar Rp30 juta. Namun setelah ikut program Makmur, penghasilan meningkat menjadi Rp 45 juta per hektare.

Sekarang, petani yang tergabung di program Makmur sudah mencapai 179 petani dengan lahan 350 hektare.

Tak hanya Agus, salah satu petani lainnya, yakni Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Berkat program Makmur. Hasil panen bisa meningkat sehingga mensejahterakan para petani.

Ibrahim menilai kenaikan harga buah ceri kopi mampu meningkatkan taraf perekonomian para petani kopi anggotanya.

“Semoga terus ada pendampingan pada petani melalui program Makmur ini,” ucap dia.

Sumber: https://bangsapedia.com/posts/program-makmur-sejahterakan-petani-kopi-ijen-panen-melimpah-harga-makin-naik

Leave a Reply

Your email address will not be published.